Tuesday, 30 October 2012

Aidiladha

Seperti Aidilfitri yang lepas, aidiladha juga mendatangkan seribu makna untuk diri. Kemeriahan menyambut Hari Raya Korban bersama sanak saudara masih terasa. Segar membunga bak kelopak mawar di pagi hari. Harumnya mekar dalam benak memori. Tahun mendatang semoga pertautan ukhwah antara kami kian erat. Kerinduan menyengat kalbu setiap detik. Saat-saat berkumpul bersama sanak saudara terdekat adalah saat yang cukup beerti. Walau hanya sesaat, itu lebih penting dari segalanya. Kita mampu membeli segalanya dengan duit, namun bukan kasih sayang. Segalanya perlukan duit, namun untuk kasih sayang hanya perlukan keikhlasan. Lahirnya dari hati dan berakar umbi sejak lahir.
Bila terbaca kisah seorang tua yang sudah 54tahun tidak dapat pulang beraya di kampung laman, alangkah bertuahnya diri. Setiap hari raya, malah hari-hari yang berkelapangan, selalu pulang ke kampung laman. Rindu ini hanya tertumpah ke sana. Baru 2hari meninggalkan desa tercinta, sudah menghitung hari untuk pulang lagi. Alangkah permainya tanah kelahiran. Menyimpan secangkir kenangan dalam gugus memori. Setiap saat berantai dalam sukma. Walau seindah manapun tanah rantau, ianya tetap bukan negeri kita. Hujan batu di negeri sendiri, hujan emas di negeri orang. Biarlah diri mengutip butiran emes untuk dibawa pulang ke negeri Tanah Serendah Sekebun Bunga. Lagipun, berjauhan sering mengajar eti rindu yang dalam. Perpisahan itu juga perlu untuk menjadi lebih menghargai dan dihargai. Sejauh mama diri berkelana, satu saat nanti diri akan kembali ke tanah desa. Tunggulah aku di sana. Kita pasti akan bersama.

0 comments:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger